Jakarta, Awosmedia.com,- Kurang serat ternyata bisa menjadi salah satu pemicu peradangan usus buntu atau apendisitis, menurut dokter spesialis gizi klinik. Kondisi ini muncul akibat sembelit yang membuat tinja mengeras dan berpotensi menyumbat saluran usus buntu.
Spesialis gizi klinik dr Igus Ulfa Yaze, SpGK, menyampaikan hal tersebut saat dihubungi detikcom, Sabtu (15/8/2026). Ia menjelaskan bahwa gangguan pencernaan akibat makanan yang tidak terproses sempurna dapat memicu sumbatan di muara usus buntu.
Mekanisme Kurang Serat Memicu Usus Buntu
Serat berperan penting melancarkan proses pencernaan dan menjaga tinja tetap lunak. Ketika asupan serat rendah, usus besar kesulitan mendorong sisa makanan keluar tubuh sehingga tinja mengeras.
Baca juga:Presiden Prabowo Laporkan Swasembada Pangan di Sidang MPR
Tinja yang keras ini disebut fekalit. Fekalit dapat tersangkut di pangkal usus buntu, memicu penyumbatan, lalu memunculkan peradangan hingga infeksi apabila dibiarkan terlalu lama.
Bukan Hanya Soal Biji-bijian
Selama ini masyarakat kerap mengaitkan usus buntu dengan kebiasaan menelan biji cabai atau biji jambu. dr Yaze meluruskan bahwa faktor tersebut hanya salah satu pemicu, bukan penyebab tunggal.

Ia menjelaskan proses mengunyah yang tidak sempurna turut berperan besar. “Begitu diproses di digestive kita, itu harusnya kan sudah dihancurkan, sudah dikunyah,” jelas dr Yaze.
Menurutnya, makanan atau partikel keras yang lolos dari lambung tanpa hancur sempurna berisiko menumpuk di saluran cerna. Kondisi ini makin berisiko jika seseorang jarang mengonsumsi sayur dan buah berserat tinggi.
Kombinasi Pola Makan Jadi Faktor Risiko
Sejumlah studi kesehatan turut menegaskan diet rendah serat dan tinggi makanan olahan berasosiasi dengan risiko apendisitis yang lebih tinggi. Pola makan seperti ini memudahkan konstipasi yang berujung pada penyumbatan usus buntu.
Sebaliknya, konsumsi serat yang cukup membantu mencegah penyumbatan karena mendukung tinja tetap lunak dan mudah dikeluarkan. Kombinasi kurang serat dengan kurang cairan disebut semakin memperbesar risiko tersebut.
Radang usus buntu paling sering menyerang kelompok usia 10 hingga 30 tahun. Gejalanya ditandai nyeri di sekitar pusar yang kemudian berpindah dan memberat di perut kanan bawah.
Cara Mencegah Radang Usus Buntu
Dokter menyarankan masyarakat memperbanyak konsumsi sayur, buah, dan biji-bijian utuh seperti kacang merah, beras merah, dan gandum untuk mencukupi kebutuhan serat harian. Asupan air putih yang cukup juga membantu melancarkan pencernaan.
Kebiasaan mengunyah makanan hingga benar-benar halus turut dianjurkan agar proses pencernaan berjalan optimal. Pola makan yang tergesa-gesa berisiko meninggalkan partikel makanan keras yang sulit dicerna tubuh.
Apabila muncul nyeri perut kanan bawah disertai demam, mual, atau muntah, masyarakat diimbau segera memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan. Penanganan yang terlambat berisiko menyebabkan usus buntu pecah dan memicu komplikasi serius.
M. Hadi




One thought on “Kurang Serat Ternyata Bisa Picu Usus Buntu”