Jombang, Awosmedia.com,- Ziarah Kapolri ke makam Presiden ke-4 Republik Indonesia, Abdurrahman Wahid atau Gus Dur, di Kompleks Pesantren Tebuireng, Kabupaten Jombang, Jawa Timur, menjadi bagian dari rangkaian peringatan Hari Bhayangkara ke-80 yang akan diperingati pada 1 Juli 2026.
Kegiatan yang berlangsung pada Sabtu (20/6/2026) itu sekaligus menjadi momentum mengenang kontribusi Gus Dur dalam perjalanan reformasi nasional dan penguatan institusi Polri.
Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo memimpin langsung prosesi ziarah dengan memanjatkan doa bersama dan menaburkan bunga di pusara Gus Dur.
Baca juga: Wisuda Takhassus Tarbiyatus Syarifah Lepas 138 Siswa Berprestasi
Dalam kunjungan tersebut, Kapolri mengenakan peci dan mengikuti seluruh rangkaian kegiatan penghormatan yang berlangsung khidmat.
Pengasuh Pesantren Tebuireng, KH Abdul Hakim Machfudz, menyambut kedatangan Kapolri beserta rombongan. Sebagai bentuk penghormatan dan silaturahmi, Abdul Hakim Machfudz mengalungkan surban kepada Kapolri di lokasi kegiatan.
Mengenang Peran Gus Dur dalam Reformasi
Kadivhumas Polri Johnny Eddizon Isir mengatakan ziarah tersebut merupakan bentuk penghargaan Polri kepada tokoh bangsa yang telah memberikan kontribusi besar bagi perjalanan demokrasi dan reformasi di Indonesia.
Menurutnya, Gus Dur memiliki peran penting dalam sejarah pembangunan institusi negara, termasuk dalam penguatan Polri sebagai lembaga yang profesional dan mandiri.
Johnny menjelaskan bahwa sosok Gus Dur tidak hanya dikenang sebagai pemimpin nasional, tetapi juga sebagai tokoh yang mendorong perubahan mendasar pada masa transisi reformasi.
Simak juga: https://www.instagram.com/reel/DZ1EebHTmBX/?igsh=MXJlcWkyOTcwNGNiMw==
Berbagai kebijakan yang lahir pada era kepemimpinannya dinilai memberikan arah baru bagi tata kelola pemerintahan dan sektor keamanan nasional.
“Gus Dur memiliki peran penting dalam sejarah bangsa, termasuk dalam proses penguatan institusi Polri sebagai lembaga yang profesional dan mandiri,” ujar Johnny.
Gus Dur menjabat sebagai Presiden Republik Indonesia ke-4 sejak 20 Oktober 1999 hingga 23 Juli 2001. Selama masa kepemimpinannya,
ia melanjutkan agenda reformasi dengan memperkuat supremasi sipil dan mendorong profesionalisme aparat negara.
Tonggak Penting Pemisahan TNI dan Polri
Salah satu kebijakan penting yang lahir pada era Gus Dur adalah penguatan pemisahan peran antara Tentara Nasional Indonesia (TNI) dan Kepolisian Negara Republik Indonesia (Polri).
Langkah tersebut kemudian dikukuhkan melalui TAP MPR Nomor VI Tahun 2000 tentang Pemisahan TNI dan Polri serta TAP MPR Nomor VII Tahun 2000 tentang Peran TNI dan Polri. Kebijakan itu menjadi tonggak penting dalam reformasi sektor keamanan Indonesia.
Pemisahan tersebut memberikan landasan bagi Polri untuk menjalankan fungsi penegakan hukum, perlindungan, pengayoman, dan pelayanan masyarakat secara lebih profesional sesuai prinsip negara demokrasi.
Johnny menilai semangat reformasi yang diwariskan Gus Dur masih relevan hingga saat ini. Karena itu, momentum ziarah menjelang Hari Bhayangkara ke-80 menjadi pengingat bagi seluruh anggota Polri untuk terus menjaga integritas dan meningkatkan kualitas pelayanan kepada masyarakat.
Hari Bhayangkara dan Semangat Kebangsaan
Selain dikenal sebagai tokoh reformasi, Gus Dur juga dikenang luas sebagai “Bapak Pluralisme” karena konsistensinya memperjuangkan toleransi, keberagaman, dan persatuan bangsa.
Pemikiran serta nilai-nilai kebangsaan yang diwariskannya masih menjadi rujukan dalam kehidupan sosial dan politik Indonesia.
Melalui ziarah ke makam Gus Dur, Polri menegaskan komitmennya untuk terus menjaga semangat reformasi, demokrasi, dan profesionalisme dalam menjalankan tugas.
Menjelang Hari Bhayangkara ke-80, kegiatan tersebut tidak hanya menjadi bentuk penghormatan kepada seorang mantan presiden, tetapi juga menjadi pengingat bahwa penguatan institusi negara harus berjalan seiring dengan nilai toleransi, pelayanan publik, dan kepentingan masyarakat luas.
And.




One thought on “Ziarah Kapolri ke Makam Gus Dur Jelang Hari Bhayangkara Ke-80”