Palembang, Awosmedia.com,- Strategi lintas sektor kini menjadi tumpuan utama Pemerintah Provinsi Sumatra Selatan bersama Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) dalam memitigasi potensi kebakaran hutan dan lahan
(Karhutla).
Melalui koordinasi ketat dengan BNPB dan TNI Angkatan Udara, BMKG secara resmi menggerakkan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) guna mencegah krisis kabut asap yang diprediksi mengancam wilayah tersebut sepanjang tahun 2026.
Inisiatif ini merupakan respon cepat terhadap Surat Keputusan Gubernur Sumatra Selatan Nomor 235/KPTS/-SS/2026.
Baca juga: Potongan Aplikator Ojek Online 8 Persen Berlaku Juni Mendatang
Keputusan tersebut menetapkan status siaga darurat sejak 22 April 2026, menyusul deteksi dini terhadap penurunan curah hujan di sejumlah titik rawan.
Kolaborasi lintas lembaga ini tidak hanya melibatkan pengawasan udara, tetapi juga integrasi data teknologi tinggi untuk memetakan risiko secara presisi di lapangan.
Ancaman El Niño dan Puncak Kemarau Agustus
Kepala BMKG, Teuku Faisal Fathani, memberikan penekanan khusus pada pentingnya langkah preventif di tengah bayang-bayang anomali iklim tahun ini.
Berdasarkan analisis terkini,
terdapat potensi kuat masuknya fase aktif El Niño yang dapat memperparah kondisi kering di Sumatra Selatan.
Pengalaman pahit pada tahun 2015, 2019, dan 2023 menjadi pelajaran berharga bagi tim satgas untuk tidak mengendurkan pengawasan sedikit pun.
Simak juga: https://www.instagram.com/p/DYE-B8WgZUX/?igsh=ZHl2YXJwYjQxZmpl
Kondisi cuaca di Sumatra Selatan diperkirakan akan berada pada kategori “bawah normal”, yang berarti intensitas hujan akan jauh lebih sedikit dibandingkan rerata tahunan.
BMKG memprediksi puncak kekeringan akan terjadi pada Agustus 2026. Tanpa adanya intervensi berupa modifikasi cuaca, lahan gambut yang luas di wilayah ini akan menjadi sangat rentan terhadap percikan api terkecil sekalipun, yang berpotensi memicu kebakaran hebat.
Teknologi Penyemaian Awan dan Pantauan Gambut
Dalam menjalankan strategi teknisnya, tim OMC menggunakan data tinggi muka air tanah secara real-time. Parameter ini sangat vital karena kelembapan lahan gambut adalah kunci utama dalam mencegah Karhutla.
Ketika sensor menunjukkan penurunan air tanah ke level kritis, tim gabungan segera mengudara untuk melakukan penyemaian awan.
Tujuannya adalah memicu hujan buatan agar deposit air di lahan gambut tetap mencukupi dan mencegah oksidasi yang memicu kebakaran spontan.
Deputi Bidang Modifikasi Cuaca BMKG, Tri Handoko Seto, melaporkan bahwa seluruh kegiatan operasional dipusatkan di Posko Sri Mulyono Herlambang (SMH), Palembang.
Selama periode awal Mei 2026, tim telah menuntaskan lima sorti penerbangan dengan total durasi terbang hampir mencapai 10 jam.
Sebanyak 5.000 kilogram bahan semai Natrium Klorida (NaCl) telah dilepaskan di koordinat-koordinat awan potensial untuk memastikan efektivitas hujan yang
dihasilkan.
“Sinergi lintas sektor antara BMKG, BNPB, dan dukungan pihak swasta seperti PT Makson Sukses Pratama adalah bentuk nyata kesiapsiagaan kita. Fokus kami adalah memadamkan potensi api sebelum ia muncul di permukaan.”
Dampak Sosial dan Komitmen Berkelanjutan
Pemerintah berharap penuh bahwa langkah mitigasi yang terintegrasi ini mampu melindungi jutaan warga Sumatra Selatan dari ancaman infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) akibat
kabut asap.
Selain aspek kesehatan, perlindungan terhadap ekosistem hutan dan stabilitas
transportasi udara juga menjadi prioritas utama dalam operasi tahun ini.
Kehadiran negara melalui teknologi dan kolaborasi diharapkan mampu memutus rantai bencana tahunan yang
merugikan secara ekonomi dan lingkungan.
Teuku Faisal Fathani menegaskan kembali bahwa BMKG akan tetap konsisten dalam
memonitor, memprediksi, dan mendiseminasi data terkait perkembangan cuaca secara transparan kepada publik.
Dengan strategi lintas sektor yang solid, risiko Karhutla di tahun 2026 diharapkan dapat ditekan seminimal mungkin, demi mewujudkan Sumatra Selatan yang bebas asap dan lestari bagi generasi mendatang.
(R).




One thought on “Strategi Lintas Sektor BMKG Tekan Risiko Karhutla 2026”