Pasuruan, Awosmedia.com,- Pesantren Ngalah di Desa Sengonagung, Kecamatan Purwosari, Kabupaten Pasuruan, menjadi simbol harmoni multikulturalisme di Indonesia melalui praktik toleransi yang konsisten dijalankan dalam kehidupan sehari-hari.
Lembaga pendidikan berbasis keagamaan ini tidak hanya fokus pada pengajaran ilmu agama, tetapi juga aktif membangun ruang dialog lintas budaya dan agama.
Sejak didirikan pada 1985 oleh KH. Moh. Sholeh Bahruddin Kalam dan kini diasuh oleh KH. M. Sholeh Bahruddin, pesantren ini membuka diri bagi siapa saja, termasuk non-Muslim, untuk berdiskusi dan bertukar wawasan.
Baca juga: Ledakan Pabrik Waru Sidoarjo Soroti Pentingnya BPJS Ketenagakerjaan
Keterbukaan tersebut memperkuat posisi pesantren sebagai ruang inklusif yang mencerminkan nilai-nilai kebhinekaan dalam kehidupan nyata.
Menguatkan Toleransi Lewat Aktivitas Harian
Pengasuh pesantren, Kiai Sholeh, menegaskan bahwa para santri diajarkan untuk menghormati perbedaan sebagai bagian dari kehidupan bermasyarakat.
Ia menanamkan pemahaman bahwa setiap manusia memiliki derajat yang sama, sehingga sikap saling menghargai harus menjadi landasan utama.
Pesantren secara aktif menggelar berbagai kegiatan yang mendorong terciptanya suasana harmonis.
Simak juga: https://www.instagram.com/reel/DW2-aCIEZHP/?igsh=MnY1d3NtMG5rcHow
Diskusi lintas budaya, seminar perdamaian, hingga perayaan hari besar yang melibatkan beragam tradisi menjadi agenda rutin yang dijalankan.
Melalui kegiatan tersebut, santri didorong untuk memahami perbedaan secara terbuka dan menghindari sikap eksklusif yang dapat memicu konflik sosial.
Integrasi Pendidikan Formal dan Spiritual
Seiring perkembangan zaman, Pesantren Ngalah juga memperluas perannya dengan menyediakan pendidikan formal mulai dari tingkat anak usia dini hingga perguruan tinggi.
Upaya ini dilakukan untuk menjawab kebutuhan masyarakat sekaligus meningkatkan kualitas pendidikan secara menyeluruh.
Selain itu, pesantren juga memberikan pendidikan khususiyah berupa thariqah Naqsyabandiyah wal Qadiriyah wal Mujaddadiyah.
Pendidikan ini bertujuan membentuk kedalaman spiritual santri agar seimbang antara kecerdasan intelektual dan ketenangan batin.
Kombinasi antara pendidikan formal, nonformal, dan spiritual dinilai mampu membentuk karakter santri yang utuh.
Membangun Generasi Berakhlak dan Berdaya Sosial
Kiai Sholeh menekankan bahwa tujuan utama pendidikan di pesantren ini adalah mencetak generasi yang berakhlakul karimah dan bermanfaat bagi masyarakat.
Ia juga mengingatkan pentingnya menjaga etika dalam kehidupan sehari-hari.
Menurutnya, kecerdasan tanpa etika tidak akan membawa penghargaan di tengah masyarakat.
Pesan tersebut menjadi penegasan bahwa nilai moral tetap menjadi fondasi utama dalam kehidupan sosial.
Keberadaan Pesantren Ngalah menunjukkan bahwa lembaga pendidikan keagamaan memiliki peran strategis dalam menjaga persatuan bangsa.
Di tengah tantangan global dan potensi perpecahan, praktik multikulturalisme yang dijalankan secara konsisten menjadi contoh konkret dalam memperkuat kohesi sosial di Indonesia.
Ananda.



