Sidoarjo, Awosmedia.com,- Manfaat biawak bagi keseimbangan lingkungan dan alam semakin terpinggirkan di tengah laju pembangunan yang kian agresif dilakukan oleh manusia.
Satwa reptil yang selama ini dicap liar dan berbahaya justru menjadi korban salah kaprah kebijakan tata ruang dan minimnya literasi ekologi di tingkat akar rumput.
Di banyak wilayah, kemunculan biawak di permukiman sering dianggap gangguan. Reaksi spontan warga pun kerap berujung pada pengusiran, penangkapan, bahkan pembunuhan.
Padahal, kemunculan biawak bukan penyebab masalah, melainkan gejala dari kerusakan habitat alami yang terus tergerus.
Predator Alami yang Dianggap Musuh
Biawak berperan sebagai predator alami yang mengendalikan populasi tikus, ular, dan hewan pengerat lainnya. Ironisnya, di saat pemerintah gencar mengampanyekan pengendalian hama ramah lingkungan, keberadaan biawak justru dimusnahkan secara masif di lapangan.
Simak juga Biawak Penolong yang dibenci: https://youtu.be/8y6oZ2WPKjw?si=ssZ4RlDnozTvkR1c
Biawak (Varanus salvator atau biawak air) sering kali dianggap sebagai hama oleh sebagian orang, padahal mereka memiliki peran ekologis yang sangat vital sebagai “polisi lingkungan”, terutama dalam mengendalikan populasi ular berbisa seperti ular tanah (Rhodostoma) atau kobra.
Ketika predator alami dihilangkan, ledakan populasi hama menjadi konsekuensi logis. Petani kembali bergantung pada racun kimia, yang pada akhirnya merusak tanah, mencemari air, dan mengancam kesehatan manusia. Lingkaran masalah pun terus berulang tanpa solusi mendasar.
Pembersih Alam yang Diabaikan Negara
Sebagai pemakan bangkai, biawak menjalankan fungsi ekologis yang tidak tergantikan. Bangkai hewan yang dibiarkan membusuk dapat menjadi sumber penyakit dan pencemaran.
Namun manfaat Biawak ini nyaris tak pernah masuk dalam narasi kebijakan lingkungan maupun edukasi publik.
Negara lebih sibuk membangun infrastruktur fisik ketimbang menjaga infrastruktur ekologis yang menopang kehidupan.
Padahal, hilangnya satu mata rantai seperti biawak dapat memicu terjadinya ketidakseimbangan ekosistem dalam skala luas.
Baca juga: Jusuf Rizal Ingatkan Algoritma Adu Domba Nasional
Peran dan Keunggulan Utama Biawak Di Alam
1. Sebagai Predator Puncak yang Tangguh
Biawak adalah salah satu predator alami utama bagi berbagai jenis ular. Mereka memiliki keunggulan fisik yang membuat mereka mampu menghadapi ular berbisa:
π* Kekebalan Alami: Biawak memiliki tingkat resistensi (kekebalan) tertentu terhadap beberapa jenis racun ular. Kulit mereka yang tebal dan bersisik keras juga berfungsi sebagai perisai dari gigitan taring ular.
π* Teknik Berburu: Biawak dikenal sangat gesit. Mereka sering menyerang kepala ular terlebih dahulu atau mengguncang tubuh ular dengan kuat hingga tulang belakangnya patah.
2. Memangsa Telur dan Anakan Ular
Biawak adalah hewan oportunis dengan indra penciuman yang sangat tajam (menggunakan lidah bercabang).
π* Pencari Sarang: Biawak sering menemukan sarang ular dan memakan seluruh isinya, baik itu telur maupun anakan ular yang baru menetas.
π* Dampak: Dengan memakan telur, biawak memutus siklus hidup ular berbisa sebelum mereka sempat tumbuh dewasa dan membahayakan manusia.
3. Kompetisi Makanan (Niche Overlap)
Biawak dan ular berbisa sering kali berbagi sumber makanan yang sama, seperti tikus, katak, dan burung kecil.
π* Persaingan Sumber Daya: Kehadiran biawak yang sehat di suatu ekosistem berarti persaingan makanan bagi ular menjadi lebih ketat.
π* Pengendalian Tikus: Dengan populasi biawak yang terjaga, jumlah tikus (makanan utama ular) akan berkurang, sehingga lingkungan tersebut menjadi kurang menarik bagi ular berbisa untuk tinggal.
4. Menjaga Keseimbangan Ekosistem Pemukiman
Di lingkungan yang dekat dengan manusia (seperti area selokan atau kebun), biawak berfungsi sebagai bio-kontrol:
π* Jika biawak di suatu area dibasmi habis, biasanya akan terjadi lonjakan populasi ular karena hilangnya predator alami mereka.
π* Biawak membantu memastikan bahwa tidak ada satu spesies (termasuk ular berbisa) yang mendominasi suatu wilayah secara berlebihan.
Kehadiran Biawak, Cermin Kerusakan Tata Ruang
Masuknya biawak ke wilayah kawasan permukiman sering dijadikan dalih bahwa satwa liar βmengganggu manusiaβ. Fakta di lapangan justru menunjukkan sebaliknya.
Alih fungsi lahan, penyempitan daerah resapan air, dan rusaknya bantaran sungai memaksa biawak kehilangan ruang hidup.
Sayangnya, kebijakan tata ruang lebih berpihak pada kepentingan ekonomi jangka pendek ketimbang keberlanjutan lingkungan. Konflik manusia dan satwa pun menjadi harga yang harus dibayar masyarakat.
Indikator Lingkungan yang Mulai Menghilang
Para pemerhati lingkungan menilai, berkurangnya populasi biawak merupakan sinyal dini krisis ekologi. Satwa ini hanya bertahan di lingkungan yang masih menyediakan air bersih dan rantai makanan yang utuh.
Ketika biawak menghilang, kerusakan ekosistem biasanya sudah berada pada tahap lanjut. Namun peringatan alam tersebut sering diabaikan.
Tidak ada data populasi yang terintegrasi, tidak ada kebijakan perlindungan yang tegas, dan tidak ada sanksi jelas terhadap perusakan habitat.
Edukasi Setengah Hati, Penegakan Lemah
Minimnya edukasi lingkungan membuat masyarakat bertindak berdasarkan rasa takut, bukan pengetahuan. Aparat pun sering kali membiarkan perburuan atau pembunuhan satwa liar berlangsung tanpa penindakan serius.
Tanpa perubahan pendekatan, biawak akan terus menjadi korban. Padahal, menjaga biawak berarti menjaga keseimbangan alam yang berdampak langsung pada kehidupan manusia.
Biawak dan Masa Depan Ekologi
Manfaat biawak bukan sekadar isu satwa liar, melainkan cermin bagaimana manusia memperlakukan alam. Ketika predator alami disingkirkan, ekosistem runtuh perlahan, dan manusia menjadi pihak yang paling merugi.
Sudah saatnya kebijakan lingkungan tidak berhenti pada slogan. Perlindungan satwa seperti biawak harus menjadi bagian nyata dari agenda pembangunan berkelanjutan, bukan sekadar wacana tahunan.
Teguh



