Kabut Asap Singapura Memburuk akibat Karhutla RI

Singapura, Awosmedia.com,- Kabut Asap Singapura kembali memburuk pada Senin, 14 September 2026, setelah asap kebakaran hutan dan lahan di Indonesia terbawa angin melintasi perbatasan. Kondisi tersebut membuat kualitas udara di Singapura masuk kategori tidak sehat.

Kabut asap terlihat menyelimuti sejumlah kawasan Singapura. Media internasional ERT News melaporkan asap dari kebakaran di Indonesia menurunkan kualitas udara kota tersebut ke tingkat yang tidak sehat pada Senin pagi.

Kondisi itu terjadi ketika kebakaran hutan dan lahan masih berlangsung di sejumlah wilayah Indonesia, terutama Sumatra dan Kalimantan. Asap dari kawasan yang terbakar terbawa pola angin regional menuju Malaysia dan Singapura.

Baca juga: John Herdman Bidik Trofi FIFA ASEAN Cup

Karhutla Masih Meluas di Indonesia

Kementerian Kehutanan melaporkan hingga Minggu, 13 September 2026 pukul 21.20 WIB terdapat 592 titik panas dengan tingkat kepercayaan tinggi atau high confidence di Indonesia.

Angka tersebut meningkat dari 567 titik pada sehari sebelumnya. Meski demikian, pemerintah mencatat penurunan cukup signifikan di Kalimantan Tengah dan Kalimantan Barat. Riau juga tercatat nihil hotspot high confidence dalam pemantauan terbaru.

Pemerintah terus melakukan pemadaman melalui operasi darat dan udara. Tim gabungan juga menjalankan water bombing, patroli udara, serta Operasi Modifikasi Cuaca untuk membantu mengendalikan kebakaran.

Kabut asap Singapura memburuk akibat asap karhutla Indonesia. Ratusan hotspot terdeteksi, sementara El Niño memperbesar risiko kebakaran.

Kondisi di Kalimantan Barat masih menjadi perhatian. Associated Press melaporkan asap tebal dari kebakaran mengganggu aktivitas masyarakat dan penerbangan di wilayah tersebut. Jarak pandang di Pontianak juga turun hingga kurang dari satu kilometer.

El Nino Perparah Risiko Kebakaran

Faktor cuaca turut memperbesar risiko karhutla tahun ini. BMKG menyatakan El Niño masih berada dalam kategori sangat kuat dan berpotensi mempertahankan kondisi kering di sejumlah wilayah Indonesia.

Dalam prakiraan periode 11-17 September 2026, BMKG mencatat anomali suhu muka laut Niño 3.4 mencapai 2,74 derajat Celsius pada Dasarian III Agustus. Kondisi tersebut mendukung berkurangnya kelembapan dan meningkatkan risiko kebakaran.

Kebakaran juga telah menimbulkan dampak lingkungan yang besar. The Jakarta Post melaporkan emisi karbon dari kebakaran hutan dan lahan Indonesia mencapai sekitar 76,2 juta ton hingga pertengahan September.

Angka tersebut setara sekitar sepertiga emisi kebakaran global berdasarkan data Copernicus Atmosphere Monitoring Service.

Jepang Bantu Pemadaman Karhutla

Indonesia mendapat dukungan internasional untuk menangani kebakaran. Jepang mengirim tiga helikopter CH-47 Chinook dan sekitar 180 personel untuk membantu operasi pemadaman di Kalimantan Barat.

Helikopter tersebut dijadwalkan mendukung operasi sejak 12 hingga 19 September. Indonesia sebelumnya juga mengerahkan puluhan pesawat untuk water bombing dan operasi modifikasi cuaca.

Asap lintas batas menjadi persoalan karena dampaknya tidak berhenti di wilayah Indonesia. Kabut asap dari Sumatra dan Kalimantan dapat terbawa angin menuju negara-negara tetangga.

Dengan kondisi kemarau dan El Niño yang masih kuat, pemerintah perlu mempercepat pemadaman serta mencegah munculnya titik api baru. Perubahan arah angin dan turunnya hujan akan menjadi faktor penting dalam menentukan perkembangan kualitas udara di kawasan Asia Tenggara.

M. Hadi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *