Gempa Guncang NTT, 53 Tewas 5.000 Mengungsi

Nusa Tenggara Timur, Awosmedia.com,- Gempa guncang Nusa Tenggara Timur (NTT) pada Sabtu, 15 Agustus 2026.Bencana ini telah menewaskan 53 orang, melukai ratusan warga, dan memaksa sekitar 5.000 orang penduduk mengungsi hingga Minggu (16/8/2026) sore.

Titik Gempa dan Kekuatan Guncangan

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mencatat pusat gempa berada 30 kilometer timur laut Kabupaten Nagekeo dengan kedalaman 15 kilometer. Guncangan kuat dengan skala M 7,7. ini terasa hingga Sumba Timur dan sejumlah daerah lain di NTT.

Saat gempa guncang NTT, Warga di berbagai wilayah berhamburan keluar rumah begitu gempa terjadi. Kepanikan sempat melanda karena guncangan berlangsung cukup lama dan disusul rentetan gempa susulan.

Baca juga:Perubahan KUA-PPAS 2026 Sidoarjo Resmi Disepakati DPRD

Sebaran Korban Jiwa

Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) memperbarui data korban meninggal dunia menjadi 53 jiwa per Minggu sore. Deputi Bidang Pencegahan BNPB Abdul Muhari merinci sebaran korban di enam kabupaten.

Kabupaten Manggarai mencatat korban terbanyak dengan 25 jiwa, disusul Manggarai Timur 20 jiwa. Sisanya tersebar di Sikka 4 jiwa, Ende 2 jiwa, Manggarai Barat 1 jiwa, dan Nagekeo 1 jiwa.

Selain korban meninggal, sekitar 135 orang mengalami luka-luka dan menjalani perawatan di fasilitas kesehatan terdekat. BNPB juga mencatat 241 rumah rusak dengan tingkat kerusakan bervariasi, sementara 21 rumah sakit dan puskesmas turut terdampak.

Ratusan Gempa Susulan Terus Terjadi

BNPB mencatat hampir seribu kali gempa susulan mengguncang NTT sejak gempa utama terjadi. Dari jumlah tersebut, puluhan kali di antaranya masih dapat dirasakan langsung oleh warga.

Gempa M7,7 guncang NTT Sabtu (15/8/2026), tewaskan 53 orang, picu ratusan gempa susulan, dan paksa 5.000 warga mengungsi ke tempat aman.

Rentetan gempa susulan membuat sebagian warga memilih bertahan di tenda darurat atau tidur di luar rumah. Gubernur NTT Melki Laka Lena menyebut ketakutan warga belum sepenuhnya reda karena guncangan susulan masih berlangsung hingga kini.

Ribuan Warga Mengungsi

Data BNPB menunjukkan sekitar 5.000 warga dari berbagai kabupaten terdampak mengungsi ke lokasi yang lebih aman. Pengungsian paling banyak terjadi di wilayah dengan kerusakan terparah, yakni Manggarai, Manggarai Timur, dan Sikka.

Pemerintah daerah mendirikan posko-posko darurat untuk menampung pengungsi sekaligus mendistribusikan bantuan logistik. Kebutuhan mendesak seperti air bersih, tenda, dan bahan makanan menjadi prioritas penanganan.


Langkah Penanganan Pemerintah

Pemerintah pusat menggelar rapat koordinasi penanganan bencana di Kabupaten Manggarai Barat. Menteri Dalam Negeri Tito Karnavian, Menteri Pekerjaan Umum Dody Hanggodo, dan Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan Pratikno turut hadir bersama jajaran BNPB dan Basarnas.


Pemerintah membentuk Posko Pendampingan Nasional di Labuan Bajo dan Maumere untuk mempercepat koordinasi bantuan antarlembaga. Seluruh kabupaten terdampak juga diminta segera menetapkan status darurat bencana.

Sebanyak 1.875 personel gabungan dari TNI, Polri, BPBD, dan relawan dikerahkan untuk mendukung pencarian dan pertolongan korban. BNPB memastikan hingga saat ini belum ada laporan korban hilang di tujuh kabupaten terdampak.

Proses evakuasi dan pendataan kerusakan masih terus berjalan. Pemerintah mengimbau warga NTT tetap waspada terhadap potensi gempa susulan dalam beberapa hari ke depan.

M.Hadi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *