Jakarta, Awosmedia.com, – Dua raksasa siklon tropis di Samudra Hindia mengapit wilayah Indonesia pada penghujung 2025, memicu status siaga di sejumlah daerah dan meningkatkan risiko terjadi bencana hidrometeorologi secara serentak.
Sistem cuaca ekstrem tersebut adalah Siklon Tropis Grant di barat Sumatera dan Bibit Siklon 96S di selatan Nusa Tenggara, yang sama-sama memengaruhi pola angin, hujan, dan gelombang laut di Tanah Air.
Badan meteorologi mencatat, meski pusat Siklon Tropis Grant bergerak menjauh ke arah barat daya Samudra Hindia, dampaknya masih sangat signifikan terhadap cuaca di daratan.
Tarikan uap air dari sistem ini memperkuat pertumbuhan awan hujan di wilayah barat Indonesia, terutama Sumatera dan Jawa bagian barat.
Situasi tersebut membuat pemerintah daerah, BPBD, dan instansi terkait meningkatkan kesiapsiagaan menghadapi potensi banjir, longsor, dan gangguan aktivitas masyarakat menjelang pergantian tahun.
Siklon Grant Tetap Berbahaya Meski Menjauh
Siklon Tropis Grant terpantau berada di sekitar 1.100 kilometer di barat daya Bengkulu dan bergerak menjauhi wilayah Indonesia.
Baca juga: Komunitas GAJAP Gelar Kopdar dan Santunan Dhuafa
Namun, para ahli menegaskan bahwa jarak pusat siklon tidak selalu berbanding lurus dengan tingkat ancaman yang dirasakan di daratan.
Pakar Meteorologi Senior, Dr. Aris Sudarmawan, menjelaskan bahwa ekor awan Siklon Grant masih aktif menarik massa uap air dalam jumlah besar dari Samudra Hindia.
Proses ini meningkatkan intensitas hujan di beberapa wilayah meliputi, Sumatera Barat, Bengkulu, Lampung, hingga Banten. BMKG memprakirakan kecepatan angin Siklon Grant dapat mencapai 140 km/jam dalam 24 jam ke depan.
Kondisi tersebut memperkuat potensi hujan ekstrem berdurasi panjang yang berisiko memicu banjir bandang dan tanah longsor di daerah rawan.
Bibit Siklon 96S Aktif di Selatan Nusa Tenggara
Sementara itu, Bibit Siklon 96S yang telah berkembang di selatan Nusa Tenggara Barat dan memberikan dampak yang lebih dekat dengan wilayah Kepulauan Sunda Kecil.
Sistem ini menciptakan perlambatan angin dan konvergensi udara yang signifikan di Jawa Tengah, Jawa Timur, Bali, hingga Nusa Tenggara Timur.
Dr. Aris menilai Bibit Siklon 96S berpotensi menjadi “mesin hujan” karena berada di atas perairan dengan suhu muka laut yang sangat hangat.
Kondisi tersebut mendukung pembentukan awan Cumulonimbus yang masif dan memicu badai lokal. Wilayah Yogyakarta dan Bali termasuk daerah yang perlu mewaspadai.
Kemunculan badai lokal dengan angin kencang mendadak, hujan lebat singkat, serta petir dengan frekuensi tinggi yang dapat mengganggu aktivitas masyarakat dan pariwisata.
Ancaman Gelombang Tinggi dan Dampak Sosial
Dua raksasa Siklon selain menimbulkan hujan dan angin, kedua sistem cuaca ini juga memicu gelombang tinggi di perairan selatan Indonesia yang mencapai setinggi 2,5 hingga 4 meter.
Gelombang tinggi tersebut berpotensi terjadi di Samudra Hindia selatan Jawa hingga NTT, sehingga aktivitas pelayaran dan perikanan dinilai sangat berisiko.
BPBD di sejumlah daerah telah melakukan himbauan agar warga pesisir, nelayan, dan pelaku wisata bahari menunda aktivitas di laut.
Pemerintah daerah juga meminta kepada masyarakat di bantaran sungai dan lereng perbukitan meningkatkan kewaspadaan serta menyiapkan langkah evakuasi jika diperlukan.
Cuaca ekstrem diperkirakan masih akan berlangsung hingga malam pergantian tahun. Dalam kondisi ini, otoritas wilayah mengingatkan masyarakat untuk hanya mengakses informasi dari sumber resmi dan tidak terpengaruh kabar yang belum terverifikasi.
Situasi ini menjadi ujian kesiapsiagaan bersama, sekaligus pengingat bahwa dampak perubahan cuaca ekstrem semakin nyata dan menyentuh langsung kehidupan sosial masyarakat.
Fandi/Gio




One thought on “Dua Raksasa Siklon Kepung Indonesia Akhir Tahun”